BOM = Business Orbit Model

6 bulan yang lalu    

STRATEGI BOM “Business Orbit Model” DALAM MENGEMBANGKAN KELOMPOK WIRAUSAHAWAN BARU

 

Nama saya Zaenal asal Situbondo. Pada akhir 2015 Situbondo ditetapkan kembali sebagai salah satu kabupaten tertinggal di jawa timur, penetapan Daerah Tertinggal setiap lima tahun sekali secara nasional berdasarkan kriteria dan indikator diantaranya 1. Perekonomian Masyarakat, 2. Sumber Daya Manusia, 3. Sarana Dan Prasarana, 4. Kemampuan Keuangan Daerah, 5. Aksesibiltas dan 6. Karakteristik Daerah (Perpres Pasal 2 ayat (2,3)). Dan bagaimana keadaan situbondo? pastinya seperti selayaknya kriteria daerah tertinggal. dan perlu kita cermati dari semua kriteria daerah tertinggal tidak ada satupun yang berlandaskan pada sumber daya alam (SDA), semuanya bergantung pada kapabilitas dan kualitas sumber daya manusianya dalam membangun fasilitas dan kapabilitas daerah.

 

Sumber daya alam di situbondo menurut pribadi saya sangat baik. Daerah dengan konstur daerah yang memanjang hal ini membuat situbondo memiliki garis pantai yang panjang, sawah masih terlampar luas dan dilalui oleh jalan propinsi atau dikenal dengan PANTURA ditambah dengan adanya hutan dan taman nasional Baluran yang begitu luas tak salah jika mendapat julukan “Africa van Java”. Mendengar kata afrika semua orang mengidentikkan dengan kekayaan alam nabati dan hewani yang begitu mengagumkan meskipun terkadang juga mengindektikkan dengan kemiskinan bahkan kelaparan.

 

Mayoritas mata pencaharian masyarakat situbondo bergerak disektor pertanian dan atau perikanan. Kabupaten dengan garis panjang pantai kurang lebih 150 KM merupakan potensi alam yang kaya untuk budidaya perikanan laut, tambak dan hatchery seperti ikan kerapu dan udang windu & udang vannamei sedangkan hasil tangkap perikanan laut juga sangat besar seperti lemuru, layang dan tongkol. Dengan sumber daya alam yang melimpah seharusnya selaras dengan kemajuan ekonomi daerah situbondo, namun mayoritas penjualan hasil laut yang masih konvensional seperti penjualan ikan segar atau sekedar dipindang, hal tersebut membuat para petani dan nelayan memiliki ketergantungan yang besar pada hasil alam. Jika musim ikan hasil tangkapan pasti sangat banyak hal tersebut membuat harga sangat murah bahkan anjlok, namun jika tidak musim, hasil tangkapan sangat sedikit bahkan terkadang hanya menutupi biaya operasional melaut. Nahh… disinilah letak masalahnya. Dibutuhkan peningkatan kualitas dan nilai tambah dari produk yang dijual salah satunya dengan industrialisasi olahan ikan.

 

Pendidikan dan Pelatihan olahan hasil laut sudah pernah diberikan oleh dinas terkait seperti dinas koperasi dan UMKM kabupaten situbondo namun usaha tersebut tak berlangsung lama karena kurangnya keinginan dari peserta pelatihan. Peningkatan jumlah wirausahawan juga dilakukan oleh dinas KUMKM jawa timur seperti program pendampingan wirausaha baru namun banyaknya fasilitas yang diberikan membuat mereka mengharapkan bantuan dari pemerintah, sehingga daya juang mereka dalam mengembangkan usaha sangat rendah sehingga ketika pendampingan selesai, usaha mereka juga berhenti. Dari pemaparan keadaan tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa masalah mendasar adalah tidak adanya keinginan yang kuat sehingga membuat masyarakat tidak serius mengembangkan usahanya.

 

Begitu pula dengan program pendampingan yang dilaksanakan oleh dinas terkait, ada beberapa kelemahan, baik dari pihak penyelenggara maupun dari pihak peserta antara lain yang kami temui :

  1. Kesenjangan antara Instruktur dengan peserta. Seluruh instruktur dari pendampingan kelompok wirausaha baru berasal dari akademisi sehingga terkesan teoritis, instruktur tidak memiliki pengalaman praktis yang sesuai dengan keadaan peserta pendampingan sehingga terjadi gap antara berbagai teori kewirausahaan yang disampaikan oleh para instruktur dengan pola pikir peserta pendampingan kelompok wirausaha baru sehingga mayoritas instruksi tidak dilaksanakan oleh peserta pendampingan

 

  1. Tidak ada program lanjutan. Program pendampingan biasanya hanya dilaksanakan sesuai dengan agenda yang terjadwal sehingga pola pendampingan hanya bersifat project based, sering kali berbagai acara pelatihan selesai begitu saja tanpa disertai program lanjutan yang benar-benar dibutuhkan secara konkrit oleh pengusaha UKM. Meskipun terkadang disediakan fasilitas konsultasi namun wirausahawan baru tidak memanfaatkannya ditambah dengan para instruktur kurang begitu aktif untuk menanyakan perkembangan dari peserta pelatihan atau pendampingan yang dididiknya.

 

 

  1. Kesan Pihak peyelenggara butuh kepada peserta. Beberapa peserta pendampingan sepertinya sudah beberapa kali mengukuti pelatihan atau pendampingan dan mengetahui pola dari program pelatihan tersebut, bahkan muncul pernyataan peserta membantu pihak penyelenggara mensukseskan acara program pendampingan wirausaha yang di adakan oleh pemerintah. Selain diberikan pelatihan gratis, peserta juga diberikan fasilitas-fasilitas tertentu seperti uang tunai. Hal tersebut memperkuat bahwa pihak penyelenggara hanya ingin menghabiskan aggaran

 

Dari berbagai masalah diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pelatihan dilaksanakan tanpa munculnya minat peserta pelatihan untuk menjadi wirausahawan seperti memberi makan orang kenyang. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana cara memunculkan minat sebelum dilaksanakannya program pelatihan?

 

Mencoba merenung dan berkontemplasi dalam sekian waktu, bagaimana cara memunculkan minat entrepreneur para nelayan di desaku? hingga akhirnya tersadarkan oleh sebuah kata-kata bijak dari cak nun di Youtube “dakwah terbaik adalah dengan keteladanan, dan jadilah seperti orang yang ingin engkau dakwahi”, dan juga menemukan beberapa kata-kata perubahan dalam Alqur’an diantaranya adalah yaitu

 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya(ar-Ra’d ayat 11 )

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain(at-taubah ayat 71)

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (At-Taubah ayat 182)

 

Dari beberapa ayat dan ayat dalam kitab suci alqu’ran kami membuat suatu strategi / metode yaitu Strategi Business Orbit Model. Strategi Business Orbit Model adalah salah satu metode pengembangan kelompok wirausaha dengan memunculkan satu orang model yang memiliki usaha sukses dari kalangan masyarakat di daerah tersebut, lalu model tersebut mengajarkannya kepada masyarakat ketika  keinginan berwirausaha sudah muncul dengan usaha yang sama dan membuat suatu kelompok, asosiasi atau organisasi.

 

Dengan berbekal semangat dan ilmu yang diperoleh dari kuliah dan terus belajar di berbagai ilmu bisnis di seminar via Youtube, group facebook  dan komunitas wirausaha dan melalui sumber internet lainnya, tentunya dengan berbagai kendala, keterbatasan dan dengan seluruh tantangan, terciptalah rumah produksi usaha rintisan Abon Ikan kami beri nama “Rusa Melintas”.

 

Awal berproduksi Maret 2014, Abon dari rumah produksi hanya 1 varian saja, dengan semangat bereksperiment, kreasi dan inovasi ditahun kedua rumah produksi Rusa Melintas sudah memiliki 4 varian Abon. Dan tentunya takkan berhenti untuk meningkatkan citarasa dan nilai produk.

 

Alhamdulillah, ketika rusa melintas bisa memasarkan produk secara online dan POS Indonesia memberikan tarif terjangkau dan ekonomis, akhirnya masyarakat kelompok nelayan juga ikut memproduksi olahan ikan pun demikian membuat abon, hingga saat ini sudah terdapat 4 rumah produksi abon. Dan terus berdoa dan berusaha semoga tetap bisa berkontribusi dengan segala tantangan yang dihadapi.

 

*Salah satu julukan situbondo selain Africa Van Java adalah kota kerapu.

 




Komentar Artikel "BOM = Business Orbit Model "